Senin, 19 Juni 2017

Merevisi Makna Semangat

             Sumber : http://www.welovedates.com/blog/17586/tell-difference-confident-arrogant-man/

Di kondisi saya yang kacau balau seperti ini, teryata saya membongkar-bongkar blog yang pernah saya beri nama "Semangat" tapi tidak pernah saya isi tulisan di dalamnya. Saya tidak tahu apakah dari  awal waktu saya membuat blog ini sampai sekarang saya masih bertahan dengan kekuatan saya untuk menghadapi hidup. Saya membaca ulang sedikit tulisan awal saya tentang semangat sepertinya saya terlalu bergantung pada semangat yang diberikan orang lain, tetapi semakin saya kesini sepertinya semangat itu menjadi semangat yang sia-sia ketika saya terus menggantungkan hidup pada semangat yang diberikan orang lain. Betapa miskin dan hina sekali sepertinya saya ini kalau semangat saja masih terus mengharap pemberian semangat dari orang lain.

Saya mau merevisi semangat yang pernah saya tuliskan yang begitu bergantung pada orang lain menjadi semangat yang tak berarti semangat kalau dari diri sendiri tidak memiliki jiwa semangat itu sendiri. Hanya kita sendirilah yang mampu menghidupkanya bahkan kalau daya tahan kekuatan kita sedang lemah, kita sendirilah yang akan dengan sangat mudah mematikan semangat di dalam diri ini. Menggantungkan hidup pada orang lain khususnya berkaitan soal semangat ini hanya akan menjadi beban untuk orang lain saja, karena sungguh sangat merepotkan sekali kalau kita tidak bersemangat dan orang lain lebih bersemangat untuk menghidupkan semangat yang ada di dalam diri ini. Kita tidak bisa bebas mengatur semangat yang kita miliki lagi kalau semangat saja didapat dari pemberian semangat orang lain. Hidup kita hanya akan diatur dan dikontrol oleh orang-orang yang memberikan semangat kepada kita. Semangat yang kita miliki menjadi semangat yang tidak bisa kita rasakan karena kita hanya mengikuti semangat yang dikehendaki orang lain, pastinya kita tidak ingin hidup seperti itu kan?

Semangat dalam diripun juga harus memiliki harga diri dan jangan sampai harga diri ini direndahkan oleh orang lain dengan cara memberikan bantuan semangat pada diri ini, itu sungguh memalukan untuk orang-orang yang mengaku berjiwa tegar dan kuat. Ketegaran seseorang akan mudah sekali porak-poranda kalau dia tidak memiliki kekuatan di dalam dirinya sendiri, oleh sebab itu kekuatan menjaga kondisi jiwa dan raga tetap stabil sangat diperlukan kekuatan di dalam diri itu sendiri. Hal tersebut karena orang lain hanya mampu berkata-kata saja dan tidak memiliki kuasa untuk mengubah diri tidak bersemangat menjadi bersemangat. Dengan begitu semangat di dalam diri itulah yang terus menerus perlu untuk dipupuk dan dihidupi dan dibangkitkan gelora jiwa semangatnya untuk menjadikan diri ini insan yang mandiri dan berdikari.

Selama ini mungkin kita terjebak pada konstruksi orang lain tentang diri ini sebagai makhluk sosial yang terbatas, sehingga kita hanya menerima pemberian atas sesuatu yang telah dilekatkan pada diri ini manjadi jiwa yang pemalas dan enggan berusaha. Pantang untuk orang-orang kuat terpuruk dan terjebak pada kemalasan dan kesedihan. Ingat pasal hidup untuk bisa melampaui diri kita lebih dari yang kita mau, asalkan peraturan hidup terpuruk pada kemalasan harus dibasmi dan dibinasakan. Apakah semangat berubah menjadi kekejaman pada diri sendiri kalau seperti ini? Ingat lagi pada pasal hidup atas nama harga diri semangat juga harus memiliki nilai tawar yang tinggi. Kalau nilai tawar semangat yang kita miliki tidak ternilai, ingat lagi pasal hidup di masyarakat itu susah, karena kita hanya akan menjadi sampah masyarakat saja.